The Milky Way upon the heavens
is twinkling just for you
and Mr. Moon he came by
to say goodnight to you
I'll sing for you I'll sing for mother
We're praying for the world
and for the people everywhere
gonna show them all we care
Oh my sleeping child the world's so wild
but you've build your own paradise
That's one reason why I'll cover you sleeping child
If all the people around the world
they had a mind like yours
we'd have no fighting and no wars
there would be lasting peace on Earth
If all the kings and all the leaders
could see you here this way
they would hold the Earth in their arms
they would learn to watch you play
Oh my sleeping child the world's so wild
but you've build your own paradise
That's one reason why I'll cover you sleeping child
I'm gonna cover my sleeping child
Keep you away from the world so wild
Monday, November 10, 2008
Thursday, November 6, 2008
Kerispatih - Tentang Sebuah Kisah
Mereka takkan pernah
Tau tentang kita
Tak pernah sedikitpun
Pahami kisah kita
Sudahlah jangan lagi
Mencoba tuk bersedih
Ada aku disini
Mengerti perasaanmu
Hari ini ku harus katakan
Aku mencintaimu
Bukan karena siapapun
Atau bukan karena mereka
Cinta itu butuh pengorbanan hati
Dan cinta tak butuh waktu yang sesaat
Jika kita bertahan
Cinta itu milik kita
Jika cinta dasar dari semua ini
Hadapilah segalanya
Dengan lapang dada
Meski pahit disana
Tau tentang kita
Tak pernah sedikitpun
Pahami kisah kita
Sudahlah jangan lagi
Mencoba tuk bersedih
Ada aku disini
Mengerti perasaanmu
Hari ini ku harus katakan
Aku mencintaimu
Bukan karena siapapun
Atau bukan karena mereka
Cinta itu butuh pengorbanan hati
Dan cinta tak butuh waktu yang sesaat
Jika kita bertahan
Cinta itu milik kita
Jika cinta dasar dari semua ini
Hadapilah segalanya
Dengan lapang dada
Meski pahit disana
Tuesday, November 4, 2008
Start The Day With A Cup of Coffee
Wanita kurus kulit putih mata sipit dengan kacamata minus sedang itu adalah kawan baruku. Orangnya simple, enerjik dan kadang-kadang unik. Setiap pagi dia ke kantor dengan backpack Converse hitam yang nangkring di punggungnya, seperti koala.
Buatku, orangnya agak nyentrik. Untuk ukuran wanita dia tidak peduli dengan dandanannya. Bukan kumal, bukan berantakan, dia tetap bersih. Hanya jauh lebih biasa daripada wanita pekerja di Jakarta ini. Bayangkan hampir tidak pernah aku melihatnya memoles bibirnya dengan lipstick, atau mendapati pipinya merona merah karena polesan gincu. Rambutnya juga tidak berkiblat pada rambut-rambut masa kini. Aku yakin, dalam sepuluh tahun berlalu rambutnya tidak berubah selain hanya panjang dan pendeknya saja. Uniknya...ya uniknya...dia tak ambil pusing dengan penampilannya. So what gitu lho, kata dia...
Start the day with a cup of coffee. Mm, kalimat itu selalu mengiringi nickname-nya di list Messenger-ku saat dia online. Artinya, beberapa centimeter dari tangannya --aku yakin-- segelas kopi panas sudah menanti direguknya. Kopi. Ah, bicara soal kopi ingatkanku pada kebiasaanku yang juga gila kopi. Sampai gejala batu ginjal aku dibuatnya.
Pagi ini, seperti biasa aku sibuk dengan pekerjaanku yang tak kunjung usai (kerjaan habis = kantor tutup). Rutinitas. Baju rapi, badan wangi dan sedikit berisik obrolan pagi kawan-kawanku satu kantor menjadi hal yang biasa buatku. Sepertinya tidak habis cerita sekalipun mereka bertemu setiap hari. Selalu ada bahan bicara.
Kopi dengan creamer tinggal setengah cangkir di hadapanku. Bolak-balik kulihat list Messenger di komputerku, mm...belum ada status yang aneh di dalamnya, selain keluhan-keluhan atas pagi yang cerah ini. Aku belum melihat wanita kurus kulit putih mata sipit dengan kacamata minus sedang itu online.
Sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam, dua jam, tak juga aku lihat status Messenger itu menyala. Aku bertanya dalam hati, apakah dia tidak kerja hari ini? Eitt, peduli apa aku, toh dia hanya teman. Aku juga sudah berkeluarga dengan istri dan anak-anakku yang lucu. Aku juga bukan boss-nya yang melotot jika dia lalai dengan pekerjaannya. Kebiasaan melihat status Messenger-nya-lah yang membuatku merasa itu bagian dari salah satu rutinitas harianku.
Akhirnya kuabaikan ketergantungan itu. Aku melanjutkan pekerjaanku mengolah, mengulik, mengukur, menilai bentuk, warna dengan rasa dan mata. Sesekali tangan kiriku menarik cangkir kopi di sisi kiriku dan menenggak isinya perlahan. Sampai tiba-tiba...
Ding! Aku melihat status Messenger nickname yang aku kenal online. Secepat kilat aku buka list Messengerku untuk memastikan wanita kurus kulit putih mata sipit dengan kacamata minus sedang itu sudah bertengger di mejanya.
"Start The Day With Tears". Hah? Aku terheran-heran, baru pertama kali aku melihat perubahan status Messenger-nya seperti itu. Ada apa dengannya? Apakah dia ditimpa musibah dalam perjalanan ke kantor? Sesiang ini? Atau dia berpisah dengan kekasihnya? Atau sesuatu terjadi pada keluarganya? Penasaran aku memberanikan diri menyapanya lewat Messenger itu...
"Pagi. Ada apa, kok tumben statusnya berubah? Ikut sedih ya..." Aku coba memberi simpati kepadanya.
"Pagi. Iya aku lagi sedih, tapi aku gak bisa cerita ke kamu Mas..."
"Oh ok, gak apa-apa. Semoga kamu kuat ya. Kesedihan itu bisa dilalui kok kalo kita kuat. Sabar ya friend," Aku coba menghiburnya. Sejujurnya aku penasaran atas kesedihannya. Biasanya dia banyak bercerita tentang apa saja kepadaku. Tapi pagi ini aku tidak mau memaksanya.
Tak berapa lama aku dipanggil Bossku. Sejarah mencatatnya! Aku tertawa dalam hati. Setelah lebih dari lima tahun bekerja di kantor ini, inilah pertama kalinya aku dipanggil boss-ku. Mungkin sudah waktunya aku mendapat promosi, hiburku.
"Tok, tok, pagi Pak," aku mengetuk pintu sambil melongok ke dalam ruangan bossku yang luas dan asri.
"Pagi Dul, silakan duduk. Apa khabar?"
"Baik Pak. Ada apa Pak?"
***
Aku duduk menatap kosong List Messenger di komputerku. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa menghidupi keluargaku? Kemana lagi aku harus mencari kerja? Setelah lima tahun lebih bekerja aku di-PHK dengan alasan tidak produktif lagi? Pesangon yang aku terima juga tak seberapa besar untuk bertahan hidup selama beberapa bulan sambil mencari kerja baru. Bagaimana aku ceritakan ini pada keluargaku?
Lamat-lamat aku mendengar bisik-bisik bahwa posisiku akan digantikan wanita kurus kulit putih mata sipit dengan kacamata minus sedang itu!
Buatku, orangnya agak nyentrik. Untuk ukuran wanita dia tidak peduli dengan dandanannya. Bukan kumal, bukan berantakan, dia tetap bersih. Hanya jauh lebih biasa daripada wanita pekerja di Jakarta ini. Bayangkan hampir tidak pernah aku melihatnya memoles bibirnya dengan lipstick, atau mendapati pipinya merona merah karena polesan gincu. Rambutnya juga tidak berkiblat pada rambut-rambut masa kini. Aku yakin, dalam sepuluh tahun berlalu rambutnya tidak berubah selain hanya panjang dan pendeknya saja. Uniknya...ya uniknya...dia tak ambil pusing dengan penampilannya. So what gitu lho, kata dia...
Start the day with a cup of coffee. Mm, kalimat itu selalu mengiringi nickname-nya di list Messenger-ku saat dia online. Artinya, beberapa centimeter dari tangannya --aku yakin-- segelas kopi panas sudah menanti direguknya. Kopi. Ah, bicara soal kopi ingatkanku pada kebiasaanku yang juga gila kopi. Sampai gejala batu ginjal aku dibuatnya.
Pagi ini, seperti biasa aku sibuk dengan pekerjaanku yang tak kunjung usai (kerjaan habis = kantor tutup). Rutinitas. Baju rapi, badan wangi dan sedikit berisik obrolan pagi kawan-kawanku satu kantor menjadi hal yang biasa buatku. Sepertinya tidak habis cerita sekalipun mereka bertemu setiap hari. Selalu ada bahan bicara.
Kopi dengan creamer tinggal setengah cangkir di hadapanku. Bolak-balik kulihat list Messenger di komputerku, mm...belum ada status yang aneh di dalamnya, selain keluhan-keluhan atas pagi yang cerah ini. Aku belum melihat wanita kurus kulit putih mata sipit dengan kacamata minus sedang itu online.
Sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam, dua jam, tak juga aku lihat status Messenger itu menyala. Aku bertanya dalam hati, apakah dia tidak kerja hari ini? Eitt, peduli apa aku, toh dia hanya teman. Aku juga sudah berkeluarga dengan istri dan anak-anakku yang lucu. Aku juga bukan boss-nya yang melotot jika dia lalai dengan pekerjaannya. Kebiasaan melihat status Messenger-nya-lah yang membuatku merasa itu bagian dari salah satu rutinitas harianku.
Akhirnya kuabaikan ketergantungan itu. Aku melanjutkan pekerjaanku mengolah, mengulik, mengukur, menilai bentuk, warna dengan rasa dan mata. Sesekali tangan kiriku menarik cangkir kopi di sisi kiriku dan menenggak isinya perlahan. Sampai tiba-tiba...
Ding! Aku melihat status Messenger nickname yang aku kenal online. Secepat kilat aku buka list Messengerku untuk memastikan wanita kurus kulit putih mata sipit dengan kacamata minus sedang itu sudah bertengger di mejanya.
"Start The Day With Tears". Hah? Aku terheran-heran, baru pertama kali aku melihat perubahan status Messenger-nya seperti itu. Ada apa dengannya? Apakah dia ditimpa musibah dalam perjalanan ke kantor? Sesiang ini? Atau dia berpisah dengan kekasihnya? Atau sesuatu terjadi pada keluarganya? Penasaran aku memberanikan diri menyapanya lewat Messenger itu...
"Pagi. Ada apa, kok tumben statusnya berubah? Ikut sedih ya..." Aku coba memberi simpati kepadanya.
"Pagi. Iya aku lagi sedih, tapi aku gak bisa cerita ke kamu Mas..."
"Oh ok, gak apa-apa. Semoga kamu kuat ya. Kesedihan itu bisa dilalui kok kalo kita kuat. Sabar ya friend," Aku coba menghiburnya. Sejujurnya aku penasaran atas kesedihannya. Biasanya dia banyak bercerita tentang apa saja kepadaku. Tapi pagi ini aku tidak mau memaksanya.
Tak berapa lama aku dipanggil Bossku. Sejarah mencatatnya! Aku tertawa dalam hati. Setelah lebih dari lima tahun bekerja di kantor ini, inilah pertama kalinya aku dipanggil boss-ku. Mungkin sudah waktunya aku mendapat promosi, hiburku.
"Tok, tok, pagi Pak," aku mengetuk pintu sambil melongok ke dalam ruangan bossku yang luas dan asri.
"Pagi Dul, silakan duduk. Apa khabar?"
"Baik Pak. Ada apa Pak?"
***
Aku duduk menatap kosong List Messenger di komputerku. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa menghidupi keluargaku? Kemana lagi aku harus mencari kerja? Setelah lima tahun lebih bekerja aku di-PHK dengan alasan tidak produktif lagi? Pesangon yang aku terima juga tak seberapa besar untuk bertahan hidup selama beberapa bulan sambil mencari kerja baru. Bagaimana aku ceritakan ini pada keluargaku?
Lamat-lamat aku mendengar bisik-bisik bahwa posisiku akan digantikan wanita kurus kulit putih mata sipit dengan kacamata minus sedang itu!
Hujan Senja Hari
Hujan melibas Jakarta dengan selimut dingin bekukan sungsumku. Kutarik kerah leher jaketku lebih ke atas agar berikanku kehangatan berlebih. Aku masih saja membaca sebuah buku Pin Yathay tentang kanak-kanak korban perang Khmer Merah. Sedari tadi aku sudah larut pada buku yang ada dihadapanku. Sebenarnya dingin dan hujan tak begitu menggangguku karena aku sudah temukan hangat di kafe ini --dengan sepiring pisang keju dan segelas coklat panas--. Jadi aku masih menikmati setiap kata-kata di buku meskipun derai hujan menggelitik kaca di sampingku. Sampai suatu ketika...
"Sayang, alangkah kami butuh pelukmu di hujan dan petir senja ini"
Aku menoleh ke kanan dan kekiri. Kucari sumber suara yang dekat sekali di telingaku tadi. Sepi. Tak kulihat satupun orang berada di dekatku. Hanya ada dua meja yang terisi selain mejaku. Itu juga tidak terlalu dekat dengan mejaku. Satu orang duduk di sebelah kananku dipisah satu meja besar. Sementara yang lain lagi --ada 3 orang-- duduk di satu meja yang jaraknya lebih jauh dari orang pertama tadi. Tepatnya di sudut setelah lewati empat meja di sebelah kiriku. Jadi tak mungkin dari mereka mempunyai kecepatan super untuk berbisik di telingaku dan bak kilat kembali ke tempat duduknya semula.
"Sayang, alangkah kami butuh pelukmu di hujan dan petir senja ini"
Mmm, kalimat itu berulang lagi di telingaku. Kali ini aku bersiap melayaninya. Kututup buku ditanganku dan meletakkannya di meja. Di antara gelas dan sepiring pisang goreng keju yang belum separuh kusentuh.
"Siapakah engkau?" tanyaku sambil memejamkan mata, berharap telingaku lebih jeli mengenali suara-suara itu.
"Sayang, tidakkah engkau ingin memeluk kami? Hangatkan kami di dingin dan hujan senja ini? Kami teringkuk berpelukan di kamar terhasut kengerian pada petir yang menyambar-nyambar di luar sana"
Ah, suara itu. Aku mengenalnya. Suara belahan jiwaku nun jauh di dalam tubuhku yang paling dalam. Di satu kamar sederhana di dalam hatiku. Meringkuk di atas dipan jati di sebelah jantungku sambil menunggu cemas kedatanganku yang dapat tenangkan dan hangatkannya.
"Cintaku, aku akan datang dan temani kalian hadapi hujan dan dingin senja ini. Tunggulah barang sejenak, akan aku bawakan selimut tebal bulu-bulu hangat, secangkir coklat panas dan selusin donat empuk sebagai buah tangan buatmu," aku coba tenangkan belahan jiwaku yang masih berpelukan di sudut dipan. Aku tersenyum hiba pada mereka.
"Sayang, hanya engkau yang kami butuhkan. Pelukmu pada kami adalah selimut paling hangat yang kami inginkan. Candamu bersama kami melebihi nikmatnya secangkir coklat panas yang kami butuhkan, dan belaian tanganmu adalah sentuhan terempuk daripada tumpukan donat rasa apapun..."
Aku buka mataku. Kuletakkan secarik uang kertas sebagai pengganti sepiring pisang keju dan secangkir coklat yang mulai dingin di atas meja. Kuambil buku yang kugeletakkan di atas meja tadi dan bergegas meninggalkan kafe itu. Kupejamkan mata. Kunaiki angin yang berhembus basah di kota Jakarta, menembus dimensi dunia khayal dalam tubuhku sendiri. Melewati jantung, menembus rongga-rongga di antara rusuk-rusukku dan mencapai rumah hatiku yang terang bercahya. Rumah indah yang kami pagari dengan daun-daun cinta dan tumbuhan kasih sayang.
---------
Untuk kalian belahan jiwaku nun jauh di sana...
"Sayang, alangkah kami butuh pelukmu di hujan dan petir senja ini"
Aku menoleh ke kanan dan kekiri. Kucari sumber suara yang dekat sekali di telingaku tadi. Sepi. Tak kulihat satupun orang berada di dekatku. Hanya ada dua meja yang terisi selain mejaku. Itu juga tidak terlalu dekat dengan mejaku. Satu orang duduk di sebelah kananku dipisah satu meja besar. Sementara yang lain lagi --ada 3 orang-- duduk di satu meja yang jaraknya lebih jauh dari orang pertama tadi. Tepatnya di sudut setelah lewati empat meja di sebelah kiriku. Jadi tak mungkin dari mereka mempunyai kecepatan super untuk berbisik di telingaku dan bak kilat kembali ke tempat duduknya semula.
"Sayang, alangkah kami butuh pelukmu di hujan dan petir senja ini"
Mmm, kalimat itu berulang lagi di telingaku. Kali ini aku bersiap melayaninya. Kututup buku ditanganku dan meletakkannya di meja. Di antara gelas dan sepiring pisang goreng keju yang belum separuh kusentuh.
"Siapakah engkau?" tanyaku sambil memejamkan mata, berharap telingaku lebih jeli mengenali suara-suara itu.
"Sayang, tidakkah engkau ingin memeluk kami? Hangatkan kami di dingin dan hujan senja ini? Kami teringkuk berpelukan di kamar terhasut kengerian pada petir yang menyambar-nyambar di luar sana"
Ah, suara itu. Aku mengenalnya. Suara belahan jiwaku nun jauh di dalam tubuhku yang paling dalam. Di satu kamar sederhana di dalam hatiku. Meringkuk di atas dipan jati di sebelah jantungku sambil menunggu cemas kedatanganku yang dapat tenangkan dan hangatkannya.
"Cintaku, aku akan datang dan temani kalian hadapi hujan dan dingin senja ini. Tunggulah barang sejenak, akan aku bawakan selimut tebal bulu-bulu hangat, secangkir coklat panas dan selusin donat empuk sebagai buah tangan buatmu," aku coba tenangkan belahan jiwaku yang masih berpelukan di sudut dipan. Aku tersenyum hiba pada mereka.
"Sayang, hanya engkau yang kami butuhkan. Pelukmu pada kami adalah selimut paling hangat yang kami inginkan. Candamu bersama kami melebihi nikmatnya secangkir coklat panas yang kami butuhkan, dan belaian tanganmu adalah sentuhan terempuk daripada tumpukan donat rasa apapun..."
Aku buka mataku. Kuletakkan secarik uang kertas sebagai pengganti sepiring pisang keju dan secangkir coklat yang mulai dingin di atas meja. Kuambil buku yang kugeletakkan di atas meja tadi dan bergegas meninggalkan kafe itu. Kupejamkan mata. Kunaiki angin yang berhembus basah di kota Jakarta, menembus dimensi dunia khayal dalam tubuhku sendiri. Melewati jantung, menembus rongga-rongga di antara rusuk-rusukku dan mencapai rumah hatiku yang terang bercahya. Rumah indah yang kami pagari dengan daun-daun cinta dan tumbuhan kasih sayang.
---------
Untuk kalian belahan jiwaku nun jauh di sana...
Monday, November 3, 2008
Dia Bukan Pusat Tata Surya!
Baru saja sakit hati, tapi tidak jadi. Nanti dikira aku seburuk pikirannya. Tapi apa mau dikata sakit hati ini tiba-tiba berdiri. Bukan sakit hati kepada dia, tapi sakit hati pada pemikirannya yang terlalu sempit.
Ada orang menulis tentang dirinya, tentang pemikirannya, tentang karakternya, tentang ka-aku-annya. Dia merasa dirinya adalah kebenaran, bahkan dia canangkan dirinya sebagai pusat tata surya pola pikir manusia. Dia mengaku manusia sosial, tetapi kepedulian dia hanya sebatas lidah (Yang sesungguhnya malah masukkan dia pada kelompok manusia 'tak peduli').
Orang yang aneh. Dia bicara tentang agama, dia bicara tentang hukum, dia bicara tentang Ketuhanan, tapi dia sendiri cerita tentang bagaimana dia tidak ambil pusing dengan sekelilingnya. Dia menjelekkan bangsa lewat mulutnya tapi malah dia sendiri yang permalukan bangsanya. Dia merasa menjadi bangsa dengan ras, pekerti, agama, sosial dan budaya yang tinggi tapi dia tak lebih dari orang yang menggerogoti pengetahuannya sendiri.
Dari tulisannya dia salahkan siapapun di sekelilingnya, orang tuanya, saudaranya dan semua kehidupan di sekelilingnya atas keadaannya sekarang. Tapi dia berdalih dan bersembunyi di balik kata-katanya yang berbisa dengan memutarbalikkan fakta.
Dia mengkultuskan dirinya sendiri dengan memiliki nilai keimanan yang teramat besar dengan selalu "dekat" dengan Tuhan (hanya Nabi, manusia yang sangat "dekat" denganMu). Karena nabi tidak punya dendam, tidak punya kebencian, penuh cinta kasih dan peduli dengan sekelilingnya. Sementara dia masih mempunyai kebencian pada sesama, menghasut orang membenci bangsa lain dan merasa bangsanya sendiri yang paling mengerti peradaban, keimanan, hukum dan pola pikir yang lebih tinggi dari bangsa lain. (Sayang sekali, mulutnya lebih besar dari isi kepalanya...)
Sepertinya tak ada cermin di rumahnya. Sepertinya tak ada atlas atau bola bumi di kamarnya. Jadi dia tak mengerti sedikitpun tentang siapa dia sesungguhnya, berada di mana dia sesungguhnya.
Di akhir tulisannya dia berkata bahwa hanya orang bodoh yang tersinggung, marah atau sakit hati. Seperti jebakan yang mengharuskan orang yang terusik --karena sisi manusianya justru lebih normal-- untuk HARUS diam dan mengamini opininya. Sementara yang diam akan dijadikan sekutunya karena dipaksa sepaham dengannya.
Masih saja ada orang biasa dari bangsa biasa yang merasa luar biasa. Semoga aku dijauhkan dari orang seperti itu. Dan semoga dia segera kembali menjadi manusia rendah hati yang berpikir manusiawi. Amin.
Ada orang menulis tentang dirinya, tentang pemikirannya, tentang karakternya, tentang ka-aku-annya. Dia merasa dirinya adalah kebenaran, bahkan dia canangkan dirinya sebagai pusat tata surya pola pikir manusia. Dia mengaku manusia sosial, tetapi kepedulian dia hanya sebatas lidah (Yang sesungguhnya malah masukkan dia pada kelompok manusia 'tak peduli').
Orang yang aneh. Dia bicara tentang agama, dia bicara tentang hukum, dia bicara tentang Ketuhanan, tapi dia sendiri cerita tentang bagaimana dia tidak ambil pusing dengan sekelilingnya. Dia menjelekkan bangsa lewat mulutnya tapi malah dia sendiri yang permalukan bangsanya. Dia merasa menjadi bangsa dengan ras, pekerti, agama, sosial dan budaya yang tinggi tapi dia tak lebih dari orang yang menggerogoti pengetahuannya sendiri.
Dari tulisannya dia salahkan siapapun di sekelilingnya, orang tuanya, saudaranya dan semua kehidupan di sekelilingnya atas keadaannya sekarang. Tapi dia berdalih dan bersembunyi di balik kata-katanya yang berbisa dengan memutarbalikkan fakta.
Dia mengkultuskan dirinya sendiri dengan memiliki nilai keimanan yang teramat besar dengan selalu "dekat" dengan Tuhan (hanya Nabi, manusia yang sangat "dekat" denganMu). Karena nabi tidak punya dendam, tidak punya kebencian, penuh cinta kasih dan peduli dengan sekelilingnya. Sementara dia masih mempunyai kebencian pada sesama, menghasut orang membenci bangsa lain dan merasa bangsanya sendiri yang paling mengerti peradaban, keimanan, hukum dan pola pikir yang lebih tinggi dari bangsa lain. (Sayang sekali, mulutnya lebih besar dari isi kepalanya...)
Sepertinya tak ada cermin di rumahnya. Sepertinya tak ada atlas atau bola bumi di kamarnya. Jadi dia tak mengerti sedikitpun tentang siapa dia sesungguhnya, berada di mana dia sesungguhnya.
Di akhir tulisannya dia berkata bahwa hanya orang bodoh yang tersinggung, marah atau sakit hati. Seperti jebakan yang mengharuskan orang yang terusik --karena sisi manusianya justru lebih normal-- untuk HARUS diam dan mengamini opininya. Sementara yang diam akan dijadikan sekutunya karena dipaksa sepaham dengannya.
Masih saja ada orang biasa dari bangsa biasa yang merasa luar biasa. Semoga aku dijauhkan dari orang seperti itu. Dan semoga dia segera kembali menjadi manusia rendah hati yang berpikir manusiawi. Amin.
Aku Hanya Ingin
Aku ingin bisa
Bisa ini bisa itu
Bisa begini bisa begitu
Aku ingin mampu
Mampu ini mampu itu
Mampu begini mampu begitu
Aku ingin sanggup
Sanggup ini sanggup itu
Sanggup begini sanggup begitu
Aku ingin dapat
Dapat ini dapat itu
Dapat begini dapat begitu
Aku hanya ingin...
Bisa ini bisa itu
Bisa begini bisa begitu
Aku ingin mampu
Mampu ini mampu itu
Mampu begini mampu begitu
Aku ingin sanggup
Sanggup ini sanggup itu
Sanggup begini sanggup begitu
Aku ingin dapat
Dapat ini dapat itu
Dapat begini dapat begitu
Aku hanya ingin...
Tahukah Engkau Anakku?
Sedang apa engkau di sana Nak? Terlelap dalam mimpi indahmu? Sudahkan engkau merengek memanggilku lagi buatku temanimu tidur? Sudahkah engkau melamun lagi membayangkan kita jalan-jalan di kotamu sebelum matamu terpejam?
Anakku sayang, sudahkah engkau merajuk mengatakan betapa tidak enaknya kotamu tanpa aku? Sudahkah engkau rengek-kan bahwa kamu ingin liburan denganku? Sudahkan engkau susun rencana untuk membeli kalung, gelang, cincin, boneka, pensil, tas, bolpen, stabillo, lem, penghapus, kertas surat, buku, penggaris, tempat pensil, sandal, baju, bandana, mobil, donat, berlian, motor, kopi, jajanan, sarung tangan, kacamata, dan semua pernak-pernik kesukaanmu jika aku datang?
Sayangku, apakah engkau masih memeluk boneka Dino-mu sambil berkata "ayah, selamat bobok ya..." sebelum tertidur? Masihkah engkau berharap aku membelamu saat kawan-kawan nakalmu mengganggu? Masihkah engkau menungguku menemanimu bermain sepeda sambil bercanda? Masihkah engkau memanggilku saat bangun tidur dengan mata yang belum terbuka?
Anakku sayang, apakah isi kepala kanak-kanakmu pahami di sini akupun mati rindu kepadamu? Apakah kerianganmu mengerti bahwa seluruh isi kepalaku memikirkanmu setiap waktu? Apakah engkau sadari, wahai anakku, aku selalu ingin melihatmu pertama kali saat engkau buka matamu di pagi hari?
Mungkinkah engkau mengerti duhai anakku sayang, tangismu, lukamu, sakitmu, deritamu adalah kepedihanku yang paling besar? mengertikah engkau, tawamu, riang gembiramu, senyummu adalah bahagia tak terkira di sepanjang hidupku? Tahukah engkau anakku, aku ingin memelukmu?
Anakku sayang, sudahkah engkau merajuk mengatakan betapa tidak enaknya kotamu tanpa aku? Sudahkah engkau rengek-kan bahwa kamu ingin liburan denganku? Sudahkan engkau susun rencana untuk membeli kalung, gelang, cincin, boneka, pensil, tas, bolpen, stabillo, lem, penghapus, kertas surat, buku, penggaris, tempat pensil, sandal, baju, bandana, mobil, donat, berlian, motor, kopi, jajanan, sarung tangan, kacamata, dan semua pernak-pernik kesukaanmu jika aku datang?
Sayangku, apakah engkau masih memeluk boneka Dino-mu sambil berkata "ayah, selamat bobok ya..." sebelum tertidur? Masihkah engkau berharap aku membelamu saat kawan-kawan nakalmu mengganggu? Masihkah engkau menungguku menemanimu bermain sepeda sambil bercanda? Masihkah engkau memanggilku saat bangun tidur dengan mata yang belum terbuka?
Anakku sayang, apakah isi kepala kanak-kanakmu pahami di sini akupun mati rindu kepadamu? Apakah kerianganmu mengerti bahwa seluruh isi kepalaku memikirkanmu setiap waktu? Apakah engkau sadari, wahai anakku, aku selalu ingin melihatmu pertama kali saat engkau buka matamu di pagi hari?
Mungkinkah engkau mengerti duhai anakku sayang, tangismu, lukamu, sakitmu, deritamu adalah kepedihanku yang paling besar? mengertikah engkau, tawamu, riang gembiramu, senyummu adalah bahagia tak terkira di sepanjang hidupku? Tahukah engkau anakku, aku ingin memelukmu?
Subscribe to:
Posts (Atom)