Friday, September 11, 2009

Lirik lagu

Kenapa sering kutulis lirik lagu ke dalam blog ini?

Karena seniman musik tak membuat lagu sembarangan. Tiap lirik adalah perasaan yang diselami dengan seluruh rasanya. Jika tidak mewakili perasaan seniman musik itu sendiri mungkin bisa mewakili penikmatnya...

Bahwa setiap kata menjejali dirinya dengan makna adalah nyata.

Maka biarkan kata-kata berkata

Saybia - The Second You Sleep

You close your eyes
And leave me naked by your side
You close the door so I can’t see
The love you keep inside
The love you keep for me

It fills me up
It feels like living in a dream
It fills me up so I can’t see
The love you keep inside
The love you keep for me

I stay
To watch you fade away
I dream on you tonight
Tomorrow you’ll be gone
It gives me time to stay
To watch you fade away
I dream of you tonight
Tomorrow you’ll be gone
I wish by God you’d stay

I stay awake
I stay awake and watch you breathe
I stay awake and watch you fly
Away into the night
Escaping through a dream

I stay
To watch you fade away
I dream on you tonight
Tomorrow you’ll be gone
It gives me time to stay
To watch you fade away
I dream of you tonight
Tomorrow you’ll be gone
I wish by God you’d stay

Hey
Stay

I stay
To watch you fade away
I dream on you tonight
Tomorrow you’ll be gone
It gives me time to stay
To watch you fade away
I dream on you tonight
Tomorrow you’ll be gone
It gives me time to stay
To watch you fade away
I dream on you tonight
Tomorrow you’ll be gone
I wish by God you’d stay

Stay awake
Stay
Stay

I wish by God you’d stay
Pada kenangan yang berhamburan

Tuesday, September 8, 2009

Sembilu

Ada yang tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja di setiap jejak nafas yang engkau sisakan. Sepertinya keadaanmu saat ini telah menjadikanku pelakon monolog yang layak diolok-olok oleh kerinduan yang menohok. Kerinduan lagi? Sejatinya sesat apa yang aku lakukan hingga kerinduan yang semestinya indah malah mengiris dan berdarah?

Mungkin pada sebagian orang rindu tak selalu sembilu.

Andai saja aku tak usil merangkai lagi remah-remah kenangan yang bertebaran di kiri kananku mungkin tak kualami sembilu ini.  Sudah cukup perih tertanam dalam hidupku saat keindahan kau renggut dan kau kibaskan pada dingin hatimu; meninggalkanku tanpa ampun, bahkan tak pada seulas katapun!

Atas simbilu itu, kenapa begitu susah menguburmu di jejak masa laluku?

 

--- Seorang sahabat membukakanku jalan menjauhi sembilu yang kau tinggalkan. Dia yang menopangku saat tertatih, dia yang menyediakan lengan untukku yang terseok melalui sekumpulan kitab-kitab indah dan mulia. Katanya: Karena sembilu telah mengiris hatimu, maka hatimu yang harus engkau obati, bukan pada pikiran dan emosimu. Duhai, sahabat yang menenangkanku...

Friday, September 4, 2009

Bon Jovi - In This Arms

You want commitment
Take a look into these eyes
They burn with fire (yeah)
Until the end of time
I would do anything
I'd beg I'd steal I'd die
To have you in these arms tonight

Baby I want you
Like the roses want the rain
You know I need you
Like a poet needs the pain
And I would give anything
My blood my love my life
If you were in these arms tonight

I'd hold you
I'd need you
I'd get down on my knees for you
And make everything alright
If you were in these arms
I'd love you
I'd please you
I'd tell you that I'll never leave you
And love you 'till the end of time
If you were in these arms tonight

We stared at the sun
And we made a promise
A promise this world
Would never blind us
And these were our words
Our words were our songs
Our songs are our prayers
These prayers keep me strong
And I still believe
If you were in these arms

I'd hold you
I'd need you
I'd get down on my knees for you
And make everything alright
If you were in these arms
I'd love you
I'd please you
I'd tell you that I'd never leave you
And love you 'til the end of time
If you were in these arms tonight

Your clothes are still scattered
All over our room
This old place still smells
Like your cheap perfume
Everything here reminds me of you
There's nothing I wouldn't do

And these were our words
They keep me strong baby

I'd hold you
I'd need you
I'd get down on my knees for you
And make everything alright
If you were in these arms
I'd love you
I'd please you
I'd tell you that I'd never leave ya
And love you 'til the end of time
If you were in these arms tonight
If you were in these arms tonight
If you were in these arms tonight
If you were in these arms baby

Like the roses need the rain
Like the seasons need to change
Like the poet needs the pain
I need you
In these arms tonight.

Wednesday, August 19, 2009

Lintang dan Langit

Beberapa hari ini aku amati Langit --si kecil badung--. Ia ingin melakukan semuanya sendiri, mulai dari gosok gigi, pakai bedak, minyak telon, pakai celana sampai pakai baju. Walaupun akhirnya bedak berantakan di lantai dan celana tidak rapi terpakai, aku tetap kagum atas usahanya. Untuk keberhasilannya itu, aku selalu bertepuk tangan untuk Langit, anakku yang sudah berumur 2 tahun 5 bulan itu. Dia akan nyengir bangga tanda puas.

Inilah masa yang tidak ingin aku lewatkan; menyaksikan 2 boneka kecilku tumbuh memungut kepintaran-kepintaran manusia dari hidup sehari-hari. Apa jadinya jika pekerjaan yang sejatinya untuk menafkahi mereka justru menjauhkan kita dari kebahagiaan berada di momen ini? Semoga tidak terjadi (lagi) padaku!

Lintang --si sulung manja-- tumbuh menjadi gadis mungil yang kritis, terutama saat mengingatkanku pada jam pulang kantor dan hari libur. Sore hari, menjelang jam pulang kerja, tiap 15 menit HP-ku berbunyi...

"Ayah pulangnya jangan malam-malam,"

"Iya, sayang, ayah gak malam-malam kok pulangnya," jawabku menenangkannya.

"Ayah sampai rumah harus jam delapan, gak boleh jam sepuluh, gak boleh jam sembilan!" imbuhnya.

"Iya sayang, telat dikit gak apa-apa ya, kan macet..." belaku, karena aku tidak yakin bisa sampai rumah kurang dari jam sembilan setiap harinya.

"Ah, ayah gak serius, pokoknya 100% ayah jam 8 udah di rumah!"

"Iya sayang. Ya udah, ayah kerja dulu ya biar cepet selesai. Kalau ditelpon mulu kerjaan ayah malah jadi lama selesainya."

Telponpun ditutup setelah mengucapkan salam. Sebentar kemudian biasanya ada SMS masuk, yang isinya selalu membuatku geli: ayah tapi cepet ya, bener lho jam 8. Hahaha...

Sekali lagi, inilah momen terindah yang aku maksud, yang tidak akan terulang di kehidupan kapanpun. Menikmati tingkah polah anak-anak yang sekalipun kadang memancing emosi tapi di saat bersamaan justru akan mengubahnya menjadi rasa cinta dan sayang yang tak pernah terhenti. Bahwa anak merubah dunia harus diakui...

Langit masih berusaha memakai kaosnya sendiri. Berarti sudah setengah jam Langit berusaha. Lubang untuk lengan dimasukkan ke kepala, sedangkan lubang untuk kepala dimasuki kedua tangannya. Aku tak berusaha membantu, karena dia pasti menolaknya...

"Adek aja, adek aja. Adek patek baju ndili..." rengeknya selalu tiap dibantu.

Aku akui, dibanding Lintang, Langit lebih dini ingin melakukan semuanya sendiri. Mungkin karena Langit sudah belajar dari kakaknya lebih dulu, tak perlu menunggu pengajaran dari Taman Bermain atau Taman Kanak-kanak.

Inilah kehidupan yang bisa dinikmati. Melihat anak-anak sehat dan gembira.

Maka hanya orang sinting yang mengatakan bahwa keluarga harus dikalahkan untuk pekerjaan!

Tuesday, August 4, 2009

Netral - Terompet Iblis

Gue ngga percaya, ngga mengerti kanapa di dunia ini
Masih ada saja, manusia yang hidup seperti ini
Mencela memaki dan menghina sesama manusia
Merasa dirinya yang sempurna bagaikan seorang dewa

Elo ngga sadar kalo udah meniup terompet  iblis

Saturday, August 1, 2009

Jikustik - Saat Kau Tak Di Sini

Seperti bintang-bintang, Hilang ditelan malam
Bagai harus melangkah, Tanpa kutahu arah
Lepaskan aku dari, Derita tak bertepi
Saat kau tak disini

Seperti dedaunan, Berjatuhan di taman
Bagaikan debur ombak, Mampu pecahkan karang
Lepaskan aku dari, Derita tak berakhir
Saat kau tak ada disini

Saat kau tak ada, Atau kau tak disini
Terpenjara sepi, Kunikmati sendiri
Tak terhitung waktu, tuk melupakanmu
Aku tak pernah bisa, Aku tak pernah bisa